Suasana di ruang tengah kembali hening saat Viktor menatap lurus ke mata Aru, nadanya tegas dan tak terbantahkan, “Kau akan melayaniku setiap kali aku menginginkannya, Arunika. Dan tidak ada penolakan.”Ia menoleh ke arah asistennya yang masih berdiri di sudut ruangan. “Dimas, keluarlah.”“Baik, Tuan.” Dimas membungkuk sopan, lalu berjalan keluar dan menutup pintu ruangan rapat-rapat, meninggalkan mereka berdua saja.Tak lama kemudian, dua orang pelayan masuk mendorong sebuah troli besar berisi kotak-kotak mewah. Mereka meletakkannya di atas meja panjang, lalu membukanya satu per satu.“Nona Arunika,” ucap salah satu pelayan sopan, “semua ini adalah barang-barang dari Tuan Viktor. Ada perhiasan berlian, gaun rancangan ternama, sepatu, tas, dan segala kebutuhan yang biasanya diinginkan seorang wanita.”Aru menatap tumpukan barang mewah itu dengan pandangan sekilas. Hatinya terkejut melihat betapa banyak dan mahalnya benda-benda itu, namun ia berusaha tetap tenang, tidak menunjukkan ra
Mehr lesen