"Abang khawatir banget sama kamu, Ca! Kamu nggak diapain-apain sama Kenan, kan?" ujar Restu dengan napas memburu panik. Pria itu berhambur mendekat, langsung berlutut di depan sofa tempat Camelia duduk, berusaha meraih kedua tangan mahasiswi tersebut dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iba. Camelia tidak bergerak. Dia membiarkan Restu menggenggam jemarinya yang terasa dingin, menatap wajah pria di hadapannya yang begitu rapi memainkan peran sebagai pelindung sejati. "Gue nggak apa-apa, Bang," jawab Camelia dengan suara pelan yang terdengar rapuh, memainkan sandiwaranya secara sempurna. "Gue cuma capek. Gue pikir gue bisa mengendalikan semua pria di hidup gue, tapi Kenan beda. Dia gila, Bang." Restu menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan, mengelus punggung tangan Camelia dengan penuh rasa hangat. "Kan Abang sudah pernah bilang sama kamu dari awal, Ca. Pria-pria di luar sana itu cuma mau manfaatin kamu. Cuma Abang yang benar-benar peduli dan mengerti rasa sakit kamu. Se
Baca selengkapnya