Perjamuan malam di Aula Utama malam itu seharusnya menjadi ajang diplomasi, namun bagiku, ini adalah kandang singa yang penuh dengan mangsa sombong. Aku melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk tubuhku dengan sangat ketat, menunjukkan setiap lekuk yang kini semakin berisi akibat asupan elemen terus-menerus. Rambut merah mudaku disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di dada, sementara mata merahku berkilat di bawah cahaya lampu kristal. Di belakangku, tiga pria itu berdiri seperti tembok yang tak tertembus. Adrian dengan seragam militer hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka di bagian atas, Alaric dengan jubah kebesaran Duke yang elegan namun kaku, dan Vincent yang berdiri di bayang-bayangku, matanya terus memindai setiap orang di ruangan itu. "Lady Lavinia, Anda tampak sangat... subur malam ini," sindir Marquis de Grey, seorang tetua k
Baca selengkapnya