“Apa? Siapa yang berkelahi?”Elowen langsung membuka matanya. Dia melirik ke arah pintu, dimana ada banyak sekali suara langkah kaki tergesa yang menggema di sana. “Tuan Aisar!” dia langsung menyibak selimutnya, dan melangkah tergesa sampai tersungkur akibat kepalanya yang masih sedikit pusing. “Ah… kakiku,” gumamnya lirih. Dia memijat luka di kakinya yang sudah menyembulkan darah.“Tidak, Elowen. Kau tidak boleh bersantai. Itu pasti Tuan Aisar.”Dengan susah payah, Elowen kembali bangkit. Kepalanya masih berdenyut dan pandangannya sedikit berkunang-kunang, tapi dia memaksa dirinya untuk berdiri. Suara langkah kaki di luar semakin ramai.“Astaga! Cepat panggil tabib!”“Apa Pangeran Adrien baik-baik saja?”“Jangan biarkan siapa pun mendekat!”Mendengar nama Adrien disebut, jantung Elowen langsung berdegup semakin cepat. Pupilnya melebar dalam sekejap. “Pangeran Adrien?” gumamnya pelan.Namun di detik berikutnya, wajah Aisar kembali muncul di kepalanya. Tanpa berpikir panjang, Elowen s
Read more