MasukDemi melunasi hutang ibu tirinya, Elowen Virelle dijual di rumah bordil dan melayani seorang pria misterius. Setelah diusir dari desa karena dianggap aib, ia hampir menyerah sebelum diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik; yaitu bekerja sebagai pelayan di kerajaan. Namun hidupnya tak berjalan mulus begitu saja, ia berhadapan langsung dengan Aisar Leonel, sang pangeran yang diasingkan. Dan Elowen menyadari satu hal mengejutkan—sang pangeran adalah pria yang membelinya malam itu!
Lihat lebih banyak“Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat
“Bukan maaf, Kak… kita harus mencari jalan keluar,” kata Aurelia lirih. Dua saudara kembar itu kini sudah menyatukan kedua kening mereka sambil terus menangis. Bohong kalau Dominique tidak merasa iba. Walau bagaimanapun, dia pernah menganggap mereka berdua putra-putrinya yang sah. “Kau lihat itu, Elisabeth?” tanya Dominique pelan. “Ini adalah hasil dari kejahatan yang selama ini kau lakukan. Bukan hanya kau yang menderita, tapi putra-putri yang selama ini kau lindungi juga ikut merasakan kepedihannya.” “Baginda—!” Seorang tabib datang memecah keheningan. Dominique langsung menoleh dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi dengan Aisar?” Tabib itu menunduk hormat. “Tuan Muda Aisar sudah sadarkan diri, Baginda,” ujarnya. Seperti udara dingin di musim panas. Tubuh Dominique yang semula tegang, kini mulai terasa lebih ringan. Raut wajah yang semula tegas, perlahan mulai melembut. “Syukurlah dia selamat,” gumamnya nyaris tanpa suara. Namun beberapa detik kemudian, wajah itu kemba
“Tentu saja,” katanya dingin. “Kau sejak awal sudah hidup bahagia dengan gelar dan kemewahan. Aku tahu kau tidak pernah mau kalah, terlebih itu oleh Aisar—anak selir yang selalu kau hina.” Bandit itu berdiri. Dia yang hendak berjalan mendekati Adrien, langsung dipaksa duduk kembali oleh ksatria di belakangnya. “Kau lupa bagaimana kau memintaku untuk menghalangi pasukan kerajaan saat pencarian penawar racun di bukit Eze?” tanya bandit itu. Wajahnya kini berubah menjadi lebih kesal dan penuh amarah. “Kau memerintahku layaknya seorang budak, dan saat kau tertekan seperti ini, kau datang dan menganggapku ayah.” Bandit itu menggeleng kasar. Tawanya kali ini berhasil membuat matanya menyipit. “Memuakkan!” serunya. Ruang sidang kembali dipenuhi keheningan. Adrien kini masih berlutut dengan kedua mata yang membelalak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut bandit itu terus terngiang di dalam kepalanya. “Jadi kau hanya ingin menyelamatkan dirimu se
“Pangeran Adrien, Baginda ingin mulai mengadili semua dosa yang telah kalian lakukan.”Kalimat itu membuat Adrien perlahan mengangkat wajahnya. Rambut hitamnya sudah berantakan, sementara kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu rantai besi.Dia tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan berada di titik ini. Titik yang dulu pernah Aisar tempati, kini berbalik pada dirinya sendiri. “Ayahku—ah… maksudku bandit itu?” tanyanya pelan. “Apa dia juga akan diadili?”Kesatria itu tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu sel, lalu memberi isyarat kepada dua prajurit lain untuk membawa Adrien keluar.“Jalan.”Adrien mendengus pelan. Dia ingin sekali menghajar mereka yang sudah membuatnya merasa terhina. “Aku akan berjalan sendiri. Jangan sentuh aku, atau kalian akan kehilangan tangan dan kaki.”Meski kedua tangan dan kakinya dirantai, dia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pangeran.Tak jauh dari sana, di sel yang lain, bandit tua itu juga sudah dikeluarkan. Tatapan m
“Racunnya mulai menyebar ke paru-paru.” Kalimat itu terus menggantung di udara. Silas refleks menarik Elowen menjauh dari Aisar. Dia duduk di tepi ranjang, lalu sedikit menepuk pipi Aisar. “Tuan… Tuan bangun. Tolong buka mata Anda, Tuan!” Merasa tak a
“Apa Aisar yang membebaskanmu dari rumah bordil itu?” Pertanyaan Dominique membuat Elowen menegang. Wajahnya yang sudah pucat, semakin putih, seolah tak ada darah yang mengalir disana. “Kau memanfaatkan kebaikan Aisar untuk bertahan di tempat ini?” tanya Dominique lagi. Elowen buru-buru mengg
“Elowen… Elowen…!”Mata Elowen langsung terbuka. Elowen mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih kosong beberapa detik sebelum akhirnya ia tersentak dan langsung bangkit duduk.“Su-suara siapa itu?” gumam Elowen. Matanya mulai menelanjangi setiap sudut ruangan. “Astaga! Aku lupa. Ini di paviliun
Elowen mengangguk cepat. Patuh. Dan penuh ketakutan. “Y-ya, Tuan.” Setelah pintu tertutup, Elowen perlahan memeluk lututnya sendiri. “Apa yang harus kulakukan?” Kelemahan Tuan Muda. Mainannya. Jangan menyulitkan Tuan Muda Aisar. Semua kalimat itu terus berputar di kepalanya. “Apa keputusanku u
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak