Masuk“Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat
“Bukan maaf, Kak… kita harus mencari jalan keluar,” kata Aurelia lirih. Dua saudara kembar itu kini sudah menyatukan kedua kening mereka sambil terus menangis. Bohong kalau Dominique tidak merasa iba. Walau bagaimanapun, dia pernah menganggap mereka berdua putra-putrinya yang sah. “Kau lihat itu, Elisabeth?” tanya Dominique pelan. “Ini adalah hasil dari kejahatan yang selama ini kau lakukan. Bukan hanya kau yang menderita, tapi putra-putri yang selama ini kau lindungi juga ikut merasakan kepedihannya.” “Baginda—!” Seorang tabib datang memecah keheningan. Dominique langsung menoleh dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi dengan Aisar?” Tabib itu menunduk hormat. “Tuan Muda Aisar sudah sadarkan diri, Baginda,” ujarnya. Seperti udara dingin di musim panas. Tubuh Dominique yang semula tegang, kini mulai terasa lebih ringan. Raut wajah yang semula tegas, perlahan mulai melembut. “Syukurlah dia selamat,” gumamnya nyaris tanpa suara. Namun beberapa detik kemudian, wajah itu kemba
“Tentu saja,” katanya dingin. “Kau sejak awal sudah hidup bahagia dengan gelar dan kemewahan. Aku tahu kau tidak pernah mau kalah, terlebih itu oleh Aisar—anak selir yang selalu kau hina.” Bandit itu berdiri. Dia yang hendak berjalan mendekati Adrien, langsung dipaksa duduk kembali oleh ksatria di belakangnya. “Kau lupa bagaimana kau memintaku untuk menghalangi pasukan kerajaan saat pencarian penawar racun di bukit Eze?” tanya bandit itu. Wajahnya kini berubah menjadi lebih kesal dan penuh amarah. “Kau memerintahku layaknya seorang budak, dan saat kau tertekan seperti ini, kau datang dan menganggapku ayah.” Bandit itu menggeleng kasar. Tawanya kali ini berhasil membuat matanya menyipit. “Memuakkan!” serunya. Ruang sidang kembali dipenuhi keheningan. Adrien kini masih berlutut dengan kedua mata yang membelalak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut bandit itu terus terngiang di dalam kepalanya. “Jadi kau hanya ingin menyelamatkan dirimu se
“Pangeran Adrien, Baginda ingin mulai mengadili semua dosa yang telah kalian lakukan.”Kalimat itu membuat Adrien perlahan mengangkat wajahnya. Rambut hitamnya sudah berantakan, sementara kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu rantai besi.Dia tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan berada di titik ini. Titik yang dulu pernah Aisar tempati, kini berbalik pada dirinya sendiri. “Ayahku—ah… maksudku bandit itu?” tanyanya pelan. “Apa dia juga akan diadili?”Kesatria itu tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu sel, lalu memberi isyarat kepada dua prajurit lain untuk membawa Adrien keluar.“Jalan.”Adrien mendengus pelan. Dia ingin sekali menghajar mereka yang sudah membuatnya merasa terhina. “Aku akan berjalan sendiri. Jangan sentuh aku, atau kalian akan kehilangan tangan dan kaki.”Meski kedua tangan dan kakinya dirantai, dia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pangeran.Tak jauh dari sana, di sel yang lain, bandit tua itu juga sudah dikeluarkan. Tatapan m
“Baginda…” Suara tabib itu membuat seluruh lorong kembali hening. Semua mata langsung tertuju padanya. Bahkan Elowen yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Bibir gadis itu bergetar, seolah takut mendengar kalimat berikutnya. “Bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik-baik saja? Apa kalian berhasil?” tanya Dominique tanpa mampu menyembunyikan kegelisahannya. Wajah tuanya semakin terlihat lelah dan putus asa. Tabib itu menarik napas panjang sebelum akhirnya membungkukkan tubuh lebih dalam. “Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan, Baginda. Kami sudah berusaha dengan sangat keras.” Kalimat itu membuat Elowen langsung menutup mulutnya. Air mata yang semula tidak berhenti mengalir kini berubah menjadi isak syukur. “Ta-tapi, Baginda… kondisi Pangeran Aisar masih belum stabil. Beliau kehilangan terlalu banyak darah. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang semuanya bergantung pada beliau sendiri.” lanjut tabib itu pelan. Senyum yang baru saja muncul
Pintu ruang perawatan kerajaan tertutup rapat. Elowen berdiri tepat di depannya. Jemarinya masih dipenuhi darah Aisar yang mulai mengering. Gadis itu sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terus menempel pada pintu kayu besar itu, seolah berharap Aisar akan keluar sambil tersenyum seperti biasanya. Di balik pintu, suara para tabib terdengar saling bersahutan. Kepanikan menekan bagai udara dingin yang menyerap sisa oksigen. “Siapkan air panas!” “Pendarahannya belum berhenti!” “Cepat ganti kainnya!” Setiap suara yang terdengar membuat jantung Elowen semakin terasa sesak. Gadis itu kini sudah bersimpuh di atas lantai marmer. Wajahnya pucat dengan bibir kering yang tampak mengenaskan. ‘Aku akan selalu ada untukmu, Elowen. Aku akan selalu melindungimu. Dan aku berjanji akan mengembalikan harga diri keluargamu.’ Kalimat itu kembali terngiang bagai duri kecil yang berusaha mengoyak lapisan terdalam jantungnya. “Elowen.” Lady Seraphine datang bersama Elis. Wanita itu perlahan meny
Elowen menelan ludahnya. Senyum hangat Aisar membuat dadanya kembali mengembang. Lagi-lagi dia merasa kalau Aisar memberi harapan untuknya. Gadis itu buru-buru menunduk sebelum dia kehilangan akal karena sudah mulai tertarik pada pria yang jelas tidak bisa digapai. “Baik, Tuan. Saya akan selalu m
Itu Aisar! Elowen menjauh. Dia langsung membungkuk. “Maafkan saya Tuan. Saya teledor.” Namun Aisar segera bertolak. Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Elowen untuk ikut dengannya. Sekilas, wanita itu melirik Silas yang berdiri tepat di belakangnya. Aura Silas lebih gelap dari pada A
Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya. ‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’“
“Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta







