Share

Bab 68. Racun Haus

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-05-27 19:01:47

“Apa yang kalian lakukan pada putraku?”

Suara Dominique menggema di ruangan besar itu. Mereka semua langsung menunduk, kecuali Elowen. Gadis itu justru berlari dan bersimpuh di bawah kaki Dominique.

“Baginda Raja… hamba mohon selamatkan Tuan Muda… hamba mohon, Baginda.” Elowen menangkup kedua tangan di depan dada. Dia sedikit menggosok-gosok telapak tangannya gugup.

“Minggir!” serunya dingin. Dia sedikit menunduk menatap Elowen yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 189. Minta Maaflah Pada Ibuku

    “Bukan maaf, Kak… kita harus mencari jalan keluar,” kata Aurelia lirih. Dua saudara kembar itu kini sudah menyatukan kedua kening mereka sambil terus menangis. Bohong kalau Dominique tidak merasa iba. Walau bagaimanapun, dia pernah menganggap mereka berdua putra-putrinya yang sah. “Kau lihat itu, Elisabeth?” tanya Dominique pelan. “Ini adalah hasil dari kejahatan yang selama ini kau lakukan. Bukan hanya kau yang menderita, tapi putra-putri yang selama ini kau lindungi juga ikut merasakan kepedihannya.” “Baginda—!” Seorang tabib datang memecah keheningan. Dominique langsung menoleh dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi dengan Aisar?” Tabib itu menunduk hormat. “Tuan Muda Aisar sudah sadarkan diri, Baginda,” ujarnya. Seperti udara dingin di musim panas. Tubuh Dominique yang semula tegang, kini mulai terasa lebih ringan. Raut wajah yang semula tegas, perlahan mulai melembut. “Syukurlah dia selamat,” gumamnya nyaris tanpa suara. Namun beberapa detik kemudian, wajah itu kemba

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 188. Saudara Kembar

    “Tentu saja,” katanya dingin. “Kau sejak awal sudah hidup bahagia dengan gelar dan kemewahan. Aku tahu kau tidak pernah mau kalah, terlebih itu oleh Aisar—anak selir yang selalu kau hina.” Bandit itu berdiri. Dia yang hendak berjalan mendekati Adrien, langsung dipaksa duduk kembali oleh ksatria di belakangnya. “Kau lupa bagaimana kau memintaku untuk menghalangi pasukan kerajaan saat pencarian penawar racun di bukit Eze?” tanya bandit itu. Wajahnya kini berubah menjadi lebih kesal dan penuh amarah. “Kau memerintahku layaknya seorang budak, dan saat kau tertekan seperti ini, kau datang dan menganggapku ayah.” Bandit itu menggeleng kasar. Tawanya kali ini berhasil membuat matanya menyipit. “Memuakkan!” serunya. Ruang sidang kembali dipenuhi keheningan. Adrien kini masih berlutut dengan kedua mata yang membelalak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut bandit itu terus terngiang di dalam kepalanya. “Jadi kau hanya ingin menyelamatkan dirimu se

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 187. Sidang

    “Pangeran Adrien, Baginda ingin mulai mengadili semua dosa yang telah kalian lakukan.”Kalimat itu membuat Adrien perlahan mengangkat wajahnya. Rambut hitamnya sudah berantakan, sementara kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu rantai besi.Dia tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan berada di titik ini. Titik yang dulu pernah Aisar tempati, kini berbalik pada dirinya sendiri. “Ayahku—ah… maksudku bandit itu?” tanyanya pelan. “Apa dia juga akan diadili?”Kesatria itu tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu sel, lalu memberi isyarat kepada dua prajurit lain untuk membawa Adrien keluar.“Jalan.”Adrien mendengus pelan. Dia ingin sekali menghajar mereka yang sudah membuatnya merasa terhina. “Aku akan berjalan sendiri. Jangan sentuh aku, atau kalian akan kehilangan tangan dan kaki.”Meski kedua tangan dan kakinya dirantai, dia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pangeran.Tak jauh dari sana, di sel yang lain, bandit tua itu juga sudah dikeluarkan. Tatapan m

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 186. Cahaya Harapan

    “Baginda…” Suara tabib itu membuat seluruh lorong kembali hening. Semua mata langsung tertuju padanya. Bahkan Elowen yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Bibir gadis itu bergetar, seolah takut mendengar kalimat berikutnya. “Bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik-baik saja? Apa kalian berhasil?” tanya Dominique tanpa mampu menyembunyikan kegelisahannya. Wajah tuanya semakin terlihat lelah dan putus asa. Tabib itu menarik napas panjang sebelum akhirnya membungkukkan tubuh lebih dalam. “Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan, Baginda. Kami sudah berusaha dengan sangat keras.” Kalimat itu membuat Elowen langsung menutup mulutnya. Air mata yang semula tidak berhenti mengalir kini berubah menjadi isak syukur. “Ta-tapi, Baginda… kondisi Pangeran Aisar masih belum stabil. Beliau kehilangan terlalu banyak darah. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang semuanya bergantung pada beliau sendiri.” lanjut tabib itu pelan. Senyum yang baru saja muncul

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 185. Di Ambang Kehilangan

    Pintu ruang perawatan kerajaan tertutup rapat. Elowen berdiri tepat di depannya. Jemarinya masih dipenuhi darah Aisar yang mulai mengering. Gadis itu sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terus menempel pada pintu kayu besar itu, seolah berharap Aisar akan keluar sambil tersenyum seperti biasanya. Di balik pintu, suara para tabib terdengar saling bersahutan. Kepanikan menekan bagai udara dingin yang menyerap sisa oksigen. “Siapkan air panas!” “Pendarahannya belum berhenti!” “Cepat ganti kainnya!” Setiap suara yang terdengar membuat jantung Elowen semakin terasa sesak. Gadis itu kini sudah bersimpuh di atas lantai marmer. Wajahnya pucat dengan bibir kering yang tampak mengenaskan. ‘Aku akan selalu ada untukmu, Elowen. Aku akan selalu melindungimu. Dan aku berjanji akan mengembalikan harga diri keluargamu.’ Kalimat itu kembali terngiang bagai duri kecil yang berusaha mengoyak lapisan terdalam jantungnya. “Elowen.” Lady Seraphine datang bersama Elis. Wanita itu perlahan meny

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 5. Aisar Leonel

    “Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 4. Lady Seraphine

    “Tujuan?” tanya salah satu penjaga dengan suara tegas.Elowen sedikit tersentak, lalu buru-buru menunduk sopan. Napasnya bahkan ikut tertahan beberapa saat.“Sa-saya… saya ingin melamar sebagai pelayan, Tuan. Ini surat rekomendasi saya,” ujar Elowen seraya memberikan surat itu dengan tangan gemetar

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 3. Jalan Menuju Istana

    Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering. Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 2. Malam Pembebasan

    “Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak. Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas. “Aku tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status