“Elowen, tunggu!” Aisar menarik tangan Elowen, membuat gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Dia bahkan sudah tidak peduli dengan mata-mata yang sudah memperhatikan mereka di depan paviliun. “Hey, kenapa harus pergi? Kita akan selesaikan ini dulu. Kita akan bongkar semuanya—” “Tidak, Tuan…” gumam Elowen memotong. Suaranya serak dan berat. Aisar tahu dia sangat ketakutan dan emosional. Bahu Elowen yang gemetar sudah cukup menjadi penjelasannya. “Saya sudah mengubur masalah ini sejak lama, Tuan… saya tidak ingin mendiang kedua orang tua saya tidak tenang,” ujar Elowen sambil terisak. Dia berusaha lepas dari pelukan Aisar, tapi pria itu semakin erat mendekapnya. Aisar menghela napas kasar. “Maaf,” gumamnya pelan. Elowen kembali menggeleng. Hatinya terasa perih saat mendengar Aisar mengatakan kata maaf. Dia tidak menyalahkan Aisar, sungguh. “Aku hanya ingin kebenaran terungkap, Elowen,” ujar Aisar. Dia menuntun Elowen untuk menatapnya. “Kau tahu, bahkan ketika mendiang ibuku
Read more