Kondisi Vio sudah lebih baik. Ia makan tanpa di suruh, mulai menikmati kopi lagi, dan tertawa bersama pasien dan staf lain. Adriel senang, Vio tidak larut dalam kesedihanya.Adriel menaruh berkas di meja jaga, melirik Vio yang sedang membuat order pasien. "Sayang, makan siang di ruanganku yuk."Vio otomatis mendongak. "Sayang? Siapa yang izinin kamu manggil gitu?"Adriel kiceup. "Jadi?""Vio aja." Katanya sambil fokus ke layar komputer.Beberapa perawat yang ada disana pura-pura sibuk."Oke, Vio. Padahal aku pikir kalo udah pacaran lama udah bisa upgrade panggilan."Vio mendesah. "Jangan dulu, aku masih geli dengernya. Nanti kalo siap, aku kasih tahu."Adriel cemberut. "Tawaran makan siangnya gimana?"Vio berjalan cepat ke arah bangsal. "Gak bisa, aku sibuk. Oyah, mulai malam ini aku udah jaga malam. Kamu pulang aja duluan."Adriel membuang nafas. Ia mengambil bolpoin dan tanda tangan penuh tekanan."Biasa aja dong, kalo kertasnya bolong harus ada tumbal yang pri
Read more