Vio mulai punya rutinitas baru yang terasa aneh tapi pelan-pelan membuatnya nyaman. Pagi hari kadang ada telpon dari mami.“Lagi sibuk gak, sayang? Temenin mami ke butik, yuk.”Atau,“Mami mau ke salon. Ikut ya biar sekalian me time.”Awalnya Vio selalu menatap layar ponsel lama sebelum mengangkat telpon. Apalagi ia masih ingat betul ucapan mami tempo hari di ruangan Adriel. Setiap kata “Mami” terasa seperti sepatu baru—cantik, tapi masih kaku dipakai berjalan. Namun dia tetap datang. Entah hanya perasaan saja, mami selalu terlihat sangat senang melihatnya datang. Vio jujur senang. Dia punya alasan untuk berjarak dengan Qairo, apalagi jika ingat perkataan terakhirya.Hari itu mereka duduk berdampingan di kursi salon. Rambut Vio sedang dipijat lembut oleh terapis, sementara mami sibuk memilih warna cat kuku untuk sang menantu.Suasana hening beberapa detik, lalu mami mulai membuka topik yang selalu sama.“Ingetan kamu masih belum ada yang kembali, sayang?”Vio tersen
Read more