Tanya masih terduduk di lantai karpet tebal, tepat di bawah kaki Satrio. Sorot matanya tampak sedikit bingung dan linglung, kontras dengan citra wanita pebisnis tangguh yang biasa ia tampilkan. Pengaruh magis dari liontin giok pemikat di dada Satrio telah mengaburkan dinding kesadaran logisnya, menyisakan naluri murni yang sepenuhnya tunduk pada pemuda di hadapannya.Satrio menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata Tanya yang setengah berkabut. "Apakah kamu menginginkan aku, Nyonya?" tanya Satrio dengan nada rendah yang sarat akan otoritas mutlak.Tanya terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan dengan gerakan patah-patah. "Ya... aku menginginkanmu, Satrio," bisiknya pelan, seolah digerakkan oleh dorongan gaib yang tak bisa ia bendung.Sembari mendongak pasrah, seulas senyuman manis yang penuh gairah mulai terukir di bibir berlipstik merahnya. Perlahan, kedua tangan Tanya yang lentik mulai bergerak maju. Jemarinya merayap naik dari pergelangan kaki Satrio, menyusuri kain celan
Read more