Akhirnya kamu datang juga, Satrio? Dua hari ini rasanya kantor ini sepi sekali tanpa kehadiranmu," rajuk Adirah begitu pintu ruang kerja Satrio tertutup rapat pagi itu. Adirah, sekretaris boss besar dengan seragam kerja yang ketat, langsung melangkah mendekat tanpa memedulikan jarak profesional mereka. Sepasang matanya menatap Satrio dengan binar kerinduan yang mendalam. Ia meletakkan sebuah map kerja di atas meja, namun gerak tubuhnya justru condong ke arah Satrio, menguapkan aroma parfum vanila yang manis dan memikat ke seluruh ruangan. Satrio mengulas senyum tipis, senyuman khas yang selalu berhasil menundukkan hati wanita. Ia menanggalkan jas hitam mewahnya, menyampirkannya di sandaran kursi empuknya, lalu menduduki kursi tersebut dengan wibawa seorang pria yang memegang kendali penuh. "Ada beberapa urusan kampus yang harus kuselesaikan, Mbak Adirah. Urusan penting terkait kelulusanku," jawab Satrio, suaranya berat, tenang, dan sarat akan karisma yang menghanyutkan. "Aku benar-
더 보기