Laticia menatap Lereg yang terlihat bersungguh-sungguh."Aku akan menunggu sampai hari ketika kau percaya bahwa kau tidak lagi harus memikul semua beban itu seorang diri. Sampai hari ketika kau mampu memberikan apa yang menurutmu belum bisa kau berikan kepadaku."Laticia menggigit pelan bibir bawahnya.Dadanya kembali dipenuhi rasa sesak yang kali ini bukan berasal dari kesedihan, melainkan dari kehangatan yang perlahan memenuhi ruang kosong di dalam hatinya.Lereg mengangkat tangan yang lain, mengusap perlahan pipi perempuan itu dengan ujung jarinya. Tatapannya tidak pernah berubah. Tetap setenang dan seyakin saat pertama kali ia mengutarakan isi hatinya."Karena bagiku..." Ia tersenyum tipis. "Tidak pernah ada pilihan lain, Laticia. Sejak dahulu hingga sekarang hanya kau yang aku inginkan."Bukan karena ia seorang ratu. Bukan karena darah bangsawan yang mengalir dalam dirinya. Bukan pula karena kedudukan atau kekuasaan yang dimiliki Laticia.Lereg menginginkannya karena ia adalah La
Read more