Cahaya keemasan meledak di tengah ruang gawat darurat yang sudah dipenuhi kepanikan, membuat semua orang di sana—dokter, perawat, bahkan Keenan yang masih berdiri mematung di sudut ruangan—terpaku menyaksikan dua sosok pria muncul begitu saja dari udara kosong. "ARLOS!" Anastasia, yang tadinya berlutut putus asa di lantai koridor, mengangkat wajahnya dan melihat suaminya berdiri di sana, nyata, utuh, dengan mata merah yang sama seperti yang selalu dia rindukan setiap malam selama sepuluh tahun terakhir. "Anastasia," Arlos berbisik, suaranya pecah, melangkah cepat menghampiri wanita yang sudah lama sekali tidak bisa dia peluk. Dia merengkuh Anastasia erat-erat, tidak peduli pada tatapan bingung para dokter dan perawat di sekelilingnya, tidak peduli pada apa pun selain kenyataan bahwa dia akhirnya, setelah sekian tahun, bisa merasakan tubuh istrinya lagi dalam pelukannya. "Kau nyata," Anastasia menangis di dadanya, tinjunya lemah memukul bahu Arlos, campuran kemarahan dan kerinduan
Read More