"Nggak, Mah! Aku nggak mau!" jerit Zia keras kepala, mengempaskan tangan Fariska. "Lebih baik aku tinggal di sini selamanya daripada harus menikah sama orang yang nggak aku kenal!"Mendengar penolakan keras kepala dari putrinya, Bastian yang sejak tadi membisu mendadak bangkit berdiri. Wajahnya menggelap kaku, rahangnya mengetat menahan amarah yang sudah sampai di puncak batas.Bastian melangkah mendekat, lalu menarik kasar tangan istrinya."Ayo kita pulang, Fariska," ujar Bastian dingin tanpa memandang Zia sedikit pun. "Biarkan dia hidup bersama keras kepalanya di sini. Kita lihat saja sampai kapan dia sanggup bertahan hidup di vila terpencil ini!"Zia tercengang, matanya membelalak kaget. "Ayah...!"Bastian menoleh, menatap Zia dengan pandangan tajam tanpa belas kasihan."Mulai detik ini, Ayah putus semua fasilitas kamu. Uang bulanan, kartu kredit, dan Surti hari ini juga Ayah berhentikan!" tegas Bastian penuh intimidasi. "Silakan kamu mengurus dirimu sendiri di sini. Nyuci baju, ma
Terakhir Diperbarui : 2026-07-27 Baca selengkapnya