Dia merasa pernah mengenali punggung itu, tapi pikirannya mendadak buntu saat mencoba mengingat. "Zia, ayo makan," ajak Fariska yang tiba-tiba muncul di belakang putrinya. Zia terlonjak kecil lalu buru-buru menyembunyikan ponselnya. "Nggak, Mah, aku nggak mau makan," ucap Zia judes, langsung berjalan menuju meja makan dan ikut duduk di sana bersama yang lain. Melihat putrinya yang tampak tidak bersahabat, Fariska hanya bisa mengembuskan napas maklum dan tidak memaksanya lagi. Zia duduk dengan menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap sinis ke arah Ayla yang duduk di depannya dengan perut yang mulai membuncit. "Ayla, kamu nggak serem tinggal di sini? Di sini rumahnya masih sepi," tanya Zia dengan nada memancing. Ayla mendongak, lalu tersenyum tipis dengan tulus. "Nggak, aku senang di sini." Zia hanya mengangguk-angguk dengan bibir yang bergerak mencibir pelan, merasa tidak puas dengan jawaban santai kakaknya itu. "Kamu... kenal sama orang di sebelah rumah ini?" tanya Z
Terakhir Diperbarui : 2026-07-12 Baca selengkapnya