Fariska terperanjat, buru-buru membekap mulutnya sendiri agar tidak memekik. Zia yang berada di ujung lorong mendekat melihat Fariska hanya mematung di depan pintu dan membekap mulutnya. Zia menatap dengan kening berkerut."Ada apa, Mah?" tanya Zia pelan, melirik ke arah pintu ruang kerja Aditama yang masih menyisakan suara napas memburu sang kakek.Tanpa menjawab, Fariska langsung mencengkeram pergelangan tangan Zia dan menarik putrinya itu menjauh dari sana dengan langkah tergesa-gesa. Dia tahu betul, dalam kondisi murka seperti ini, Aditama bisa menjelma menjadi monster yang tak segan melukai siapa saja yang mengganggu ketenangannya.Setelah jarak mereka cukup jauh dari ruang kantor, Fariska melepaskan cengkeramannya. Napasnya naik-turun, dipenuhi kepanikan yang coba dia sembunyikan."Rayan ... ada yang menyelamatkan bajingan itu, Zia! Jasadnya tidak ada di dasar jurang," bisik Fariska dengan mata melebar tegang. "Kalau dia selamat, Mama yakin seratus persen dia pasti akan kembali
Terakhir Diperbarui : 2026-07-08 Baca selengkapnya