Pintu tertutup di belakangnya, dan dunia berubah.Bukan karena ruangan ini lebih besar atau lebih megah dari aula. Justru sebaliknya, ruangan ini lebih kecil, lebih hangat, dengan perapian yang menyala di sudutnya dan hanya satu kursi yang dipersiapkan untuk tamunya. Tapi di aula, ada musik yang mulai dimainkan, ada lusinan pasang mata, ada bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di sini, tidak ada semua itu. Hanya sunyi. Hanya suara api yang berderak pelan. Hanya Ratu yang duduk di kursinya.Rosemary membungkuk. Gerakannya sedikit canggung, separuh ingatan tubuhnya masih mengikuti cara seorang pria memberi hormat, separuh lainnya mencoba mengingat kembali cara yang sudah lama tidak digunakan. Tapi otot-ototnya mengingat lebih banyak dari yang ia duga.“Angkat wajahmu,” kata Ratu. Suaranya te
Read more