Keheningan malam itu terasa berbeda. Udara di dalam kamar dipenuhi oleh ketegangan yang pekat, namun kali ini poros kendali mulai bergeser. Kaelen bisa mendengar detak jantung Thalassa yang melemah, dan hal itu mulai memicu monster paranoia di dalam kepalanya ke arah yang berbeda: ketakutan akan kematian wanita ini. Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Kaelen terus menatap wajah pucat Thalassa, ibu jarinya bergerak mengusap bibir kering istrinya dengan getaran yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Hingga akhirnya, pertahanan keheningan mutlak sang Duke runtuh. "Makan," satu kata itu keluar dari bibir Kaelen. Suaranya terdengar luar biasa serak, berat, dan pecah, seolah-olah tenggorokannya sudah berkarat karena terlalu lama mengunci suara. Thalassa tetap bergeming. Ia tidak menjawab, tidak juga mengangguk. Ia mempertahankan ekspresi kosongnya, seolah-olah ia tidak mendengar suara suaminya. "Aku bilang, makan, Thalassa," Kaelen mengulangi kalimatnya, kali ini dengan
Read more