Malam itu, badai salju di luar Kastel Aristhos menderu lebih kencang dari biasanya, menghempaskan butiran es ke kaca menara yang tebal. Di dalam kamar utama, suasananya tidak kalah membeku. Kaelen seolah telah menyatukan jiwanya dengan bayangan Thalassa. Kamar itu kini benar-benar steril, dibersihkan dari setiap jengkel ingatan masa lalu yang bisa memicu amukan sang Duke. Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana yang rapuh. Thalassa sedang duduk di meja rias barunya, meja tanpa laci tersembunyi, yang dipasang atas perintah Kaelen agar tidak ada lagi ruang untuk rahasia. Ketika ia hendak mengambil botol minyak wangi mawar pilihan suaminya, jemarinya menyentuh sesuatu yang ganjil di balik cermin kosmetik yang diletakkan pelayan bisu sore tadi. Sebuah selipan kertas kecil yang kaku. Jantung Thalassa berdesir tajam. Dengan gerakan cepat dan senyap, ia menarik kertas itu. Benar saja, sebuah surat usang yang dilipat rapi dengan segel lilin biru tua bermotif bunga lili, lambang priba
Read more