Pagi itu di ruang makan utama Kaelen duduk bersandar lemas di kursi, wajahnya pucat pasi dengan sebuah saputangan sutra yang terus menempel di hidungnya. Di depannya, sama sekali tidak ada makanan, hanya segelas air putih hangat dengan perasan lemon yang bahkan baunya pun membuat ulu hatinya bergejolak.Sebaliknya, di sisi lain meja, Thalassa tampak begitu bersinar. Pipinya yang dulu tirus kini mulai berisi dan merona sehat. Nafsu makannya meningkat drastis, di depannya tersaji roti panggang dengan lapisan mentega tebal, telur orak-arik yang lembut, dan potongan daging yang aromanya memenuhi ruangan."Kaelen, kau yakin tidak mau mencoba sepotong roti ini? Ini sangat enak," tanya Thalassa dengan nada tidak tega namun suaranya terdengar sangat ceria karena semangat makannya."Jauhkan... jauhkan piring itu dariku, Thalassa," gumam Kaelen parau, matanya terpejam rapat. "Hanya dengan mendengar suara kunyahanmu saja, perutku rasanya ingin terbalik."Tiba-tiba, Kaelen membuka matanya dengan
Baca selengkapnya