Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya. Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru napasnya sendiri yang memburu.Padahal, Hazel sangat yakin papanya sudah berdiri tepat di hadapannya.Didorong rasa penasaran, Hazel perlahan membuka sepasang matanya. Pemandangan di depannya seketika membuat lidahnya kelu. John, pria paruh baya yang biasanya berdiri angkuh penuh otoritas itu, kini justru sedang berjongkok di atas lantai marmer. Jemari tangannya yang besar bergerak perlahan, memeriksa pergelangan kaki Hazel yang membengkak kebiruan tanpa menyentuhnya terlalu keras, seolah takut rasa sakit itu akan bertambah.John mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa bersalah dan iba. Ia mendongak, menatap Hazel dengan sepasang mata yang melunak. "Baru kemari
Magbasa pa