"Maksudnya apa, Rey?! Kenapa kau bilang Aksa itu, bukan Aksa?!"Suara Sofia pecah dalam bisikan yang teramat panik. Jemarinya yang bergetar hebat mencengkeram kain jas kelabu Rey, menuntut sebuah kepastian yang mampu mengusir rasa takut yang mendadak mencekik dadanya.Rey tidak melepaskan cengkeraman tangan itu, sepasang matanya menatap lurus, seolah sedang menusukkan jarum tak kasat mata tepat ke dalam pusat ketakutan wanita paruh baya di hadapannya."Sofia, tenangkan pikiranmu dan coba ingat-ingat lebih jelas," ujar Rey, suaranya mengalun pelan namun penuh racun yang merayap tenang. "Aksa yang kita tahu selalu menenggelamkan dirinya dalam sumur alkohol, tapi beberapa waktu ini tidak.""Ia menderita kerusakan saraf tepi akibat kecanduan alkohol yang menahun, kau tahu sendiri... Jangankan bertarung, memegang cangkir teh dengan stabil di pagi hari saja tangannya sering kali bergetar tanpa bisa dikontrol. Tapi lihat pria di atas."Rey menjeda kalimatnya, membiarkan Sofia membelalak saa
Read more