Vania membasahi bibirnya, menyapu rasa gugup yang sempat singgah di tenggorokannya. Ia menatap kejantanan Bumi yang kini berdiri tegak di hadapannya—bukan sekadar simbol gairah, melainkan sebuah menara ketegangan yang menyimpan seluruh hasrat pria itu, yang telah ditahannya sejak tadi.Kulitnya yang hangat dan permukaannya yang berurat, seolah menuntut untuk disentuh, untuk ditaklukkan...Bumi kini telah bersandar sepenuhnya di kepala ranjang dengan napas yang memburu liar, seolah-olah ia sedang menahan ombak besar yang siap menghantam kapal kecil yang ia tumpangi."Jangan, Vania. Kotor," suara Bumi rendah, parau, dan bergetar hebat. Ada nada ancaman sekaligus permohonan dalam suaranya.Vania tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum tipis yang mematikan, lalu menunduk. Hembusan napas hangatnya yang beraroma vanila menyapu permukaan kulit kejantanan Bumi yang menegang, membuat sang tiran itu bergetar hebat.Tanpa ragu, Vania membiarkan bibirnya menyentuh ujung kejantanan Bumi yang
อ่านเพิ่มเติม