Mata Renjana tak teralihkan. Ia terus menatap ke depan, memperhatikan bagaimana tubuh kekar itu bergerak dengan cekatan menyiapkan cake yang ia inginkan. Tanpa Renjana sadari, ia menopang dagu dengan kedua tangannya, menyunggingkan senyum tipis ke arah Naren. Mata belonya terus berkedip, mengamati setiap gerak-gerik pria itu dengan tatapan yang sulit ia sembunyikan. Naren, yang menyadari tatapan intens dari sang majikan, hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia sengaja tidak memberikan reaksi berlebihan; ia tahu caranya menjaga kendali situasi agar Renjana tidak merasa canggung—atau justru semakin tidak bisa berpaling. "Sudah selesai, Nyonya," ucap Naren setelah menata beberapa potong cake dengan variasi rasa di atas nampan. Ia menyodorkannya tepat ke hadapan Renjana. "Wah, sudah jadi? Ini sangat indah, Naren. Kamu benar-benar berbakat," puji Renjana. Wajahnya berbinar, membuat Naren harus menahan diri agar tidak tertawa melihat antusiasme wanita itu. "Hmm, ini sangat enak.
Read more