"Jangan ceritakan apa pun lagi, dan lupakan saja semuanya! Anggap itu tidak pernah terjadi," desis Renjana, menatap serius tepat ke manik mata sang koki. Kali ini, Naren tidak tinggal diam. Ia menggerakkan jemarinya, meremas tangan Renjana yang masih berada di bibirnya. Renjana langsung tersentak kaget, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Naren terlampau kuat. Naren perlahan melepaskan dekapan di pinggang wanita itu, memberikan sedikit jarak. Akan tetapi, tangan mungil Renjana tetap ia remas dengan dominasi yang nyata. "Sepertinya itu akan sangat sulit, Nyonya..." ucap Naren rendah. Renjana mengerutkan dahi, matanya masih melotot sempurna menahan keterkejutan. "Apa Nyonya lupa? Perjanjian saya dengan Tuan Andra... saya tidak akan berhenti sebelum Nyonya mengandung benih saya!" Deg. Perkataan dingin dan telak itu sukses membuat seluruh persendian Renjana terasa lemas. Benar, bagaimana bisa ia melupakan fakta mengerikan itu? Sampai kapan ia harus terjebak d
Read more