"Kita sarapan terlebih dulu. saya sudah menyiapkan hidangan spesial untuk oma," ujar Naren sedikit membungkuk hormat. Sikapnya itu sukses menerbitkan senyum manis di wajah sang oma, yang segera melangkah mendekat. "Kamu memang selalu tahu cara melunakan hati Oma, Naren. Oma tidak sia-sia mempercayakan kamu untuk menjaga cucu Oma," ucapnya, sebelum sedetik kemudian melemparkan tatapan sinis ke arah Renjana. "Semuanya, mari kita makan," lanjut Oma, mengedarkan pandangan ke setiap orang yang berada di sana—sengaja melewati Renjana seolah perempuan itu kasatmata. Oma lalu kembali menoleh pada Naren dengan binar hangat. "Kamu juga, ya. Sudah lama kamu tidak memasak, apalagi ikut makan bersama di sini." Naren tersenyum tipis, lalu menggeleng sopan. "Tidak, Oma. Posisi saya di sini hanyalah seorang pelayan." "Ayo, Oma. Andra sudah lapar, nih," rengek Andra, berusaha memasang wajah semanis mungkin demi menutupi tatapan cemburu dan tidak sukanya yang pekat terhadap Naren. Om
Read more