Setelah badai pertama tadi mereda, Laras mengusap sisa peluh di dahinya sambil tersenyum manja. Napasnya masih menderu, beradu dengan sunyinya siang itu."Sini, Dru... Jangan berdiri terus di situ, lemes kan kaki kamu? Kita pindah ke ranjang," bisik Laras, suaranya serak-serak basah, menggoda iman yang nyaris tumpas.Badru hanya mengangguk patuh. Pikirannya masih melayang. Dengan sisa tenaga, ia melangkah kikuk lalu menjatuhkan punggung lebarnya ke atas kasur kapuk.Laras ikut merangkak ke atas ranjang. Namun, begitu matanya melirik ke arah tengah paha Badru, wanita itu tertegun. Di sana, si Jono sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mau pensiun dini. Pusaka itu justru berdiri tegak lurus, tegang maksimal menantang langit-langit kamar.'Gusti... ini bencana,' batin Badru panik. Wajah sawo matangnya seketika merah padam. 'Apa yang dia pikirkan? Apa dia merasa aku ini lelaki kurang ajar?' Ia merasa seperti maling yang tertangkap basah. "M-maaf, Teh! Sumpah, si Jono emang kurang ajar
Baca selengkapnya