Malam itu, kegelapan menyelimuti Ibu Kota Kekaisaran Jing bagai kain kafan yang pekat. Angin malam berembus kencang, mengguncang lampion-lampion merah di sepanjang jalanan istana, menciptakan bayangan-bayangan distorsi yang bergerak liar di atas dinding marmer.Di bawah tanah, sekelompok bayangan hitam yang mengenakan zirah serigala perak bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dipimpin oleh Chu Canglan dan Shen Qingge, mereka menyusuri jalur tikus bawah tanah yang menghubungkan distrik komersial langsung ke area luar Istana Barat.Sementara itu, di sebuah gang beralas batu yang sepi di dekat gerbang belakang istana, sebuah kereta kuda tanpa lambang resmi bergerak terburu-buru. Di dalam kereta tersebut, Kasim Lao duduk dengan wajah yang dipenuhi peluh dingin. Di sampingnya terdapat tiga peti kayu kecil yang berisi surat-surat kepemilikan tanah, emas batangan, serta segel pembukuan pelabuhan selatan—seluruh urat nadi keuangan faksi Selir Agung Qi."Cepat sedikit! Jika kita tid
Read more