Pintu apartemen yang tertutup sore itu tidak benar-benar membawa Malikha pergi jauh. Setelah berjalan hingga ke lobi bawah, langkah kakinya tertahan oleh rasa tanggung jawab dan adab sebagai seorang istri. Kepergiannya bukanlah sebuah pelarian kekanak-kanakan, melainkan sebuah jeda untuk menyelamatkan hatinya dari amarah. Ketika malam melingkupi kota, Malikha memilih kembali ke apartemen, menemukan ruang tengah yang gelap gulita tanpa berkas cahaya sedikit pun.Di sudut ruangan, Reyhan duduk bersimpuh di atas sajadah, kepalanya tertunduk dalam-dalam menyentuh lantai. Suara isak tangis yang tertahan memecah kesunyian malam. Pria yang biasanya berdiri angkuh di puncak rantai komando perusahaan itu kini tampak begitu kecil, rapuh, dan tidak berdaya di atas hamparan kain kain sujudnya.Malikha melangkah sangat pelan, meletakkan tas kecilnya di atas meja, lalu duduk bersila di lantai, beberapa langkah di belakang saf suaminya. Dia
Terakhir Diperbarui : 2026-06-13 Baca selengkapnya