Di sisi lain meja, Arga mengambil keripik kentang dari rak, membuka bungkusnya, lalu duduk menonton Tito yang kini lebih sibuk dengan ponsel daripada wajan. “Lo jadi masak, nggak, Bang?”Tanpa memperhatikan Arga, Tito menjawab singkat. “Jadi.”Bunyi keripik kentang kriuk digigit Arga memenuhi ruangan. “Adonannya dari tadi segitu.” “Gue lagi konsultasi.” “Sama siapa?” “Ahli gizi.” Arga memasukkan keripik ke mulut. “Ahli gizinya pakai blazer merah?” Tito menoleh perlahan dan memelototi Arga. “Lo lihat?”Setelah menelan keripik kentangnya, Arga mengaku, “Sekilas.” “Lo lihat apanya?” Sumpah, Tito agak khawatir. “Baju merah.” “Selain itu?” “Nggak ada, sih. Cuma kelihatan pas lo nge-zoom dadanya.”Tito ingin melempar spatula ke kepala Arga, tetapi menahannya. Masih banyak yang lebih penting. Misalnya dengan mencerca, “Lo yakin cuma lihat itu doang?”Arga malah berbalik tanya, “Hah? Emang ada yang lain, Bang?” “Ya kagak!”"Oh, ya udah.” Tito mengambil ponselnya dan berjalan menja
Read more