Menjelang malam, Tito berdiri di depan pintu keberangkatan internasional dengan ransel menggantung di satu bahu.Lampu-lampu putih di langit-langit terminal memantul pada lantai yang mengilap. Suara roda koper beradu dengan pengumuman penerbangan, bunyi pemindai, percakapan para penumpang, dan tangisan seorang anak yang tidak mau melepaskan balon berbentuk pesawat.Di tengah seluruh keramaian itu, Lih berdiri di samping Tito dengan kedua tangan masuk ke saku jaket. Sejak mengantar Tito dari basecamp sampai terminal, pria itu hanya mengeluarkan kalimat seperlunya.Tito sudah mandi, mengganti pakaian, memasukkan dua kemeja ke ransel, lalu berangkat tanpa sempat memeriksa ulang barang bawaannya. Kepalanya masih penuh oleh Jayden, restu yang belum diberikan, serta Jameka yang menatapnya terlalu lama ketika ia pamit dari kantor.Lih melihat ransel di bahunya.“Paspor?”“Ada.”“Tiket?”“Di ponsel.”“Dompet?”“Ada.”“Pengisi daya?”Tito menoleh. “Ada.”“Obat?”“Gue kagak sakit.”“Buat mabuk
อ่านเพิ่มเติม