“Pakde, apa apaan, sih? Motornya loh, pink. Masa iya, yang punya cowok.” Lily manyun, tapi itu terlihat sangat imut bagi Danu.“Eh, iya. Maaf, deh.” Danu memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.“Pakde dari warung mang Ujang? Ngemie lagi pasti, ya?” Lily langsung memasang wajah curiga.“Ehmm… Hehe!” Danu hanya nyengir kuda.“Ayo pulang! Sekalian sama Lily, Pakde bonceng di belakang!”Danu langsung mengerutkan dahinya mendengar ucapan Lily barusan, bingung juga ketika ia harus bonceng gadis itu di belakang.“Loh, jangan gitu, noh. Masa, pakde yang bonceng. Kamu lah!”Mereka akhirnya berdebat sebentar. Danu gengsi dan Lily tak rela pinjamkan motor pinjamannya itu.“Pakde, manut! Ayo toh. Ini kalau kita jalan, udah sampai daritadi!” tegas Lily.Danu menarik napas panjang, dan akhirnya ia bonceng di belakang dan duduk menyamping ala wanita anggun.“Ih, Pakde!” Lily mengomel lagi.“Salah lagi, aaah!” Danu akhirnya mengalah dan merubah posisi.Kini Danu duduk seperti biasanya di bel
Read more