Bayu seraya membalikkan tubuhnya, kini ia di atas dan menatap Nyonya Selin dengan mata menyala. "Malam masih panjang. Aku belum menunjukkan semua yang bisa aku lakukan." Nyonya Selin memandangnya dengan mata berbinar, tapi juga malu, sehingga dia hanya bisa mengalihkan pandangannya. "Apa lagi yang bisa kamu lakukan memangnya, Bay?" bisik nyonya Selin dengan suara lirih. Bayu tak menjawab tapi malah membungkuk, mencium bibirnya dalam-dalam, sementara satu tangannya merambat turun, kembali memainkan area sensitif yang baru saja puas. "Banyak hal, Nyonya. Aku berjanji, sebelum matahari terbit, nyonya akan lupa namamu sendiri." Nyonya Selin tertawa kecil, suara yang ringan dan merdu, sudah lupa akan rasa malu dan canggung yang dia rasakan beberapa saat lalu, "Kamu ini memang pembual, Bayu." "Bukan pembual, Nyonya," balas Bayu sambil tersenyum nakal, "Tapi seorang pria yang sangat ingin menunjukkan betapa berharganya nyonya." Dia membungkuk lagi, kali ini bibirnya menjelajah le
Read more