Yuna mengusap dadanya, mencoba bersikap tenang meski gelisah. “Regan, dengar dulu. Sekuat apa pun kita mencoba menahan, Anna tetap tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Si kembar juga tidak bisa terus kita paksa mengikuti apa yang kita mau. Mereka terus bertindak mengikuti kata hati.”Napas Regan memberat, dadanya naik turun menahan emosi. “Aku cuma mau yang terbaik untuk mereka! Arga dan seluruh keluarganya itu racun! Kamu lupa seberapa menderitanya Anna dulu?” suaranya meninggi. Cemburu, posesif, tak terima, dan rasa khawatir bercampur membakar dadanya.Yuna menggeleng pelan lalu menarik tangan Regan menuju koridor kamar. “Lihat sendiri dengan matamu. Kepalaku sudah hampir mau pecah memikirkan semua ini.”Lalu, Regan berdiri tersembunyi di balik tembok, sementara Yuna masuk ke kamar si kembar. Yuna duduk di tepi ranjang, menatap Kaisar dan Kayla yang sedang main game dengan wajah malas, bergantian. “Tante mau apa? Kita nggak laper!”“Tante, apa udah ada kabar dari rumah saki
Leer más