Tari Lenso adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Maluku dan Minahasa, Sulawesi Utara, yang biasanya dibawakan dalam acara-acara perayaan seperti pesta panen atau pernikahan. Gerakannya yang lincah menggunakan sapu tangan (lenso) sebagai properti utama mencerminkan kegembiraan dan semangat masyarakat setempat.
Sejarahnya berkaitan dengan budaya Portugis yang dibawa selama masa kolonial, di mana tarian ini awalnya digunakan sebagai sarana pergaulan muda-mudi. Uniknya, lenso (sapu tangan) sering dilempar ke penonton sebagai simbol undangan untuk menari bersama, menciptakan interaksi yang cair antara penari dan penonton.
Sebagai tarian rakyat, Lenso punya daya tarik universal. Tak perlu kostum mewah—kain sederhana dan senyum tulus penari sudah cukup menghidupkan pesta. Yang menarik, tarian ini justru semakin populer di diaspora Maluku di Belanda sebagai simbol kerinduan akan tanah leluhur. Gerakan berputar-putarnya seolah menggambarkan omak laut Banda yang tak pernah berhenti menari.
Kalau ditelisik lebih dalam, Tari Lenso bukan sekadar tarian biasa—ia punya dimensi sosial yang kental. Di Maluku, tarian ini sering jadi media 'pencarian jodoh' secara halus. Para penari wanita menggerakkan lenso dengan gemulai, sementara pria bisa menyambutnya sebagai tanda ketertarikan. Aku selalu terpukau bagaimana budaya bisa mengemas romansa dalam bentuk seni yang begitu elegan. Konon, tradisi ini sudah ada sejak abad ke-16 dan tetap bertahan hingga sekarang sebagai warisan nyata akulturasi budaya.
Dari sudut pandang musikalitas, Tari Lenso punya keunikan tersendiri. Iringannya biasanya menggunakan alat musik seperti tifa, suling bambu, atau ukulele yang memberi nuansa riang. Gerakannya yang spontan dan enerjik bercerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang ceria. Aku pernah menyaksikan langsung di Ambon—rasanya seperti melihat warna-warni budaya Nusantara yang hidup. Tarian ini juga sering diadaptasi menjadi bentuk kontemporer, tapi esensi kegembiraan kolektifnya tak pernah pudar.
2026-06-14 13:33:24
27
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda
Lil Seven
9.8
341.2K
AREA DEWASA 21+
Ibuku menikah lagi dengan konglomerat tua kaya raya yang memiliki 3 orang putra:
Aresh seorang Direktur, Aaron sang CEO dan putra ketiga Arsion, masih seorang mahasiswa sama seperti diriku.
Setelah pernikahan, ibu dan ayah tiriku pergi bulan madu keliling dunia, membuat diriku terpaksa tinggal satu atap dengan ketiga kakak tiriku yang dingin.
Awalnya semua berjalan normal, aku tetap diabaikan oleh ketiga orang itu, sampai pada suatu malam... saat aku diam-diam menikmati hobiku yaitu mengintip Aresh yang tiap malam membawa wanita cantik pulang dan bercinta dengan sangat liar, Aaron memergoki tindakanku dan....
"Adikku yang cabul, mau kupuaskan?"
Wiro bekerja serabutan demi membiayai kuliah kekasihnya. Tapi dia malah dikhianati dan dipukul Krisno, pacar baru kekasihnya, hingga hampir mati.
Saat dia pikir dia tidak memiliki harapan hidup, seorang pengemis tua memberinya sebuah liontin.
Liontin itu, tidak hanya menyembuhkannya, tapi juga membuat kejantanannya jadi besar dan tangguh. Dan mulai saat ini, para wanita langsung tertarik padanya dan ingin merasakan pisangnya.
Pembalasan pertama Wiro adalah dengan meniduri ibu dan kakak perempuan Krisno.
Dia bisa menyembuhkan banyak penyakit sehingga para wanita mengaguminya.
Najwa Asyifa, perempuan berusia 26 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dengan Fabian Rizki yang lebih tua enam tahun dibanding dirinya. Pernikahan itu awalnya indah. Namun, semenjak kehadiran Ibu mertua dan adik ipar yang ikut tinggal bersama mereka, keadaan akhirnya berubah.
Puncaknya, ketika Najwa mendapat sebuah kabar buruk. Sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan mengakui wanita itu sebagai istri kedua.
*
Kau bilang, aku tak bisa tanpamu, Mas. Ah, Benarkah?
Ku rasa, itu terbalik. Bukankah, justru kau yang tak bisa tanpaku?
Setelah kematian istrinya bertahun yang lalu, Handaru tidak berencana untuk menikah lagi. Hatinya hanya milik sang istri, untuk selamanya. Semua berjalan sesuai rencana, sampai Ella mengusik hidupnya. Gadis yang memesona dengan kepolosan dan semangat mudanya seakan menjadi badai yang menerjang kehidupan Daru. Sayangnya, Ella sudah memiliki Andi, dokter yang sedang berjuang untuk menyelesaikan pendidikan demi menikahinya. Saat rasa penasaran bercampur ketertarikan, mampukah Daru mempertahankan janji kepada mendiang istrinya? Dan Ella menjaga kesetiaan pada Andi? Atau ... mereka akan memuaskan rasa penasaran satu sama lain?
~ Pemenang Runner Up (Juara 2) Kompetisi 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022 ~
Dibuang setelah kematian ibunya secara tragis, hidup Gallen bagai di neraka. Dia bertekad untuk sukses dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam.
"Lihat dan tunggu pembalasanku! Akan kutenggelamkan kalian semua hingga ke kerak bumi!"
Dua puluh tahun kemudian, Gallen muncul di perusahaan keluarga ayahnya sebagai Malaikat Kematian dalam wujud seorang cleaning service.
Selamat membaca! Yuk ramaikan kolom review dengan komentar!
Ikuti juga IG @lathifahnur117
Lyra Renata Valmont harus bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Adhikara Bramantya yang sudah hampir dia lupakan setelah ibunya menikah lagi.
Nyatanya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk sepenuhnya setelah sebuah kecelakaan yang merenggut Dipta Bramantya, suami baru ibunya sekaligus ayah dari Adhikara.
Di bawah atap yang sama dengan Adhikara Bramantya, ia harus hidup dalam ancaman, dendam, dan hasrat yang tak seharusnya ada.
Adhikara membencinya namun dia juga belum bisa sepenuhnya menghapus perasaan yang sulit untuk dia kendalikan.
Satu rahasia, ancaman, dan kesalahan di masa lalu mengikat mereka dalam hubungan gelap yang semakin sulit dilepaskan.
Kebetulan beberapa waktu lalu aku lagi suka nonton video tradisional Indonesia, dan nemu satu dokumenter kecil tentang Tari Lenso. Tarian ini ternyata punya akar budaya dari Maluku, terutama daerah Ambon dan sekitarnya. Gerakannya yang ceria pake lenso (sapu tangan) itu bener-bener ngambil atmosfer suka cita masyarakat Maluku.
Yang bikin menarik, tari ini sering muncul di acara-acara pernikahan atau penyambutan tamu. Aku suka banget sama energinya yang contagious, kayak semua orang diajak buat ikutan happy. Pernah liat langsung waktu kulineran di festival budaya, dan aura kebersamaannya itu loh... bikin pengen ikutan nari!
Gerakan dasar Tari Lenso itu sebenarnya cukup sederhana, tapi punya makna yang dalam. Aku ingat pertama kali melihatnya di acara adat Maluku, langsung terpesona oleh gemulai penarinya. Gerakan utamanya melibatkan goyangan pinggul yang lembut sambil meliukkan tangan seperti sedang memegang lenso (sapu tangan). Kaki biasanya melangkah kecil-kecil dengan ritme yang mengikuti alunan musik bambu.
Yang bikin unik, setiap gerakan dalam tarian ini seolah bercerita tentang kegembiraan dan semangat muda. Penari seringkali saling bertukar lenso sebagai simbol persahabatan. Aku selalu suka bagaimana tarian ini bisa menyatukan orang-orang dalam kebahagiaan, apalagi saat ditarikan berkelompok dengan pola melingkar.
Ada semacam energi yang menggebu-gebu setiap kali melihat Tari Lenso dipentaskan. Biasanya, tarian ini jadi bintang utama di acara-acara adat Maluku, terutama pernikahan. Gerakan gemulai dengan sapu tangan yang melambai-lambai itu seolah jadi simbol sukacita. Pernah lihat langsung di pesta adat Ambon, suasannya langsung hidup! Gak cuma itu, acara penyambutan tamu penting atau festival budaya juga sering ngangkat Lenso sebagai representasi kekayaan lokal.
Yang bikin menarik, tari ini juga sering muncul di acara-acara sekolah atau pentas seni daerah. Kayak tahun lalu waktu festival kuliner di Surabaya, mereka bawa Tari Lenso sebagai pembuka. Itu buktiin kalo Lenso bukan sekadar tarian, tapi semacam magnet kebahagiaan yang bisa dipentaskan di berbagai kesempatan.
Pernah melihat pertunjukan Tari Lenso langsung di acara adat Maluku? Aku terpesona dengan properti yang digunakan, terutama selendang berwarna cerah (lenso itu sendiri) yang jadi pusat gerakan. Penari biasanya memegang ujung selendang sambil diayunkan dengan lembut, menciptakan visual yang mengalir. Kostumnya juga tak kalah penting: baju adat dengan motif khas, sering dipadukan dengan sarung dan hiasan kepala.
Yang menarik, properti sederhana seperti sapu tangan kecil kadang dimainkan sebagai simbol keramahan. Gerakan menawarkan lenso kepada penonton atau sesama penari menjadi momen interaktif yang hangat. Nuansa festifal semakin kuat dengan iringan musik tifa dan gong yang ritmis, membuat semua elemen menyatu dalam harmoni.
Membicarakan Tari Lenso selalu mengingatkanku pada festival budaya di Maluku yang pernah kukunjungi tahun lalu. Tarian ini ternyata punya beberapa varian tergantung daerah asalnya! Yang paling terkenal ada tiga jenis: Lenso dari Minahasa (Sulawesi Utara) dengan gerakan lincah dan properti sapu tangan, Lenso Ambon yang lebih slow dengan nuansa melankolis, serta Lenso Flores yang kental unsur Portugis.
Yang menarik, setiap jenis punya makna berbeda. Lenso Minahasa sering dipentaskan dalam acara pernikahan sebagai simbol sukacita, sementara di Ambon, tarian ini lebih sering jadi bagian upacara adat. Aku pribadi paling suka melihat Lenso Flores karena kostum penarinya yang colorful dan iringan musiknya bikin mood langsung cerah!