Ada semacam energi yang menggebu-gebu setiap kali melihat Tari Lenso dipentaskan. Biasanya, tarian ini jadi bintang utama di acara-acara adat Maluku, terutama pernikahan. Gerakan gemulai dengan sapu tangan yang melambai-lambai itu seolah jadi simbol sukacita. Pernah lihat langsung di pesta adat Ambon, suasannya langsung hidup! Gak cuma itu, acara penyambutan tamu penting atau festival budaya juga sering ngangkat Lenso sebagai representasi kekayaan lokal.
Yang bikin menarik, tari ini juga sering muncul di acara-acara sekolah atau pentas seni daerah. Kayak tahun lalu waktu festival kuliner di Surabaya, mereka bawa Tari Lenso sebagai pembuka. Itu buktiin kalo Lenso bukan sekadar tarian, tapi semacam magnet kebahagiaan yang bisa dipentaskan di berbagai kesempatan.
Dari pengalaman ngobrol dengan teman-teman asli Maluku, Tari Lenso itu fleksibel banget konteks pentasnya. Acara keluarga seperti syukuran panen atau khitanan pun sering jadi panggung buat tarian ini. Gerakannya yang sederhana tapi penuh makna bikin siapa aja bisa ikut nimbrung. Bahkan di acara-acara modern sekarang, kayak pesta pernikahan ala kota, tetep aja ada sentuhan Lenso biar nuansa tradisionalnya keluar.
Kalau ditelisik lebih dalam, Tari Lenso itu sebenarnya medium penghubung antar generasi. Di acara-acara besar seperti HUT RI atau karnaval daerah, tarian ini selalu hadir membawa semangat persatuan. Pernah perhatiin gak? Sapu tangan yang dipakai penari itu kayak simbol ikatan. Di Maluku sendiri, Lenso hampir selalu ada di acara adat penting, tapi juga mulai banyak dipentaskan di luar konteks tradisional, seperti di acara corporate gathering bertema budaya.
Cerita lucu pas pertama kali liat Tari Lenso di acara pernikahan sepupu. Awalnya kira cuma tarian biasa, ternyata ada momen dimana penari mengajak tamu untuk join. Acara jadi makin meriah! Ternyata selain di resepsi, Lenso juga sering dipentaskan waktu acara adat penyambutan bayi atau peresmian rumah baru. Intinya sih di setiap momen bahagia masyarakat Maluku, Lenso hampir selalu hadir.
2026-06-12 18:05:35
7
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kau Bisa Apa Tanpaku, Mas?
Itha Sulfiana
8.5
66.2K
Najwa Asyifa, perempuan berusia 26 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dengan Fabian Rizki yang lebih tua enam tahun dibanding dirinya. Pernikahan itu awalnya indah. Namun, semenjak kehadiran Ibu mertua dan adik ipar yang ikut tinggal bersama mereka, keadaan akhirnya berubah.
Puncaknya, ketika Najwa mendapat sebuah kabar buruk. Sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan mengakui wanita itu sebagai istri kedua.
*
Kau bilang, aku tak bisa tanpamu, Mas. Ah, Benarkah?
Ku rasa, itu terbalik. Bukankah, justru kau yang tak bisa tanpaku?
"Nolia, kakakmu sudah bertunangan dengan kakak iparmu, jadi jangan lagi mencoba merusak semuanya. Kami sudah membelikan tiket pesawat untukmu, beberapa tahun ke depan tetaplah di luar negeri, tunggu sampai kakakmu selesai menikah barulah kembali." Melihat ekspresi di wajah orang tua yang menyiratkan seakan "demi kebaikan kamu", Manolia baru sadar bahwa dirinya telah terlahir kembali. Dia terlahir kembali pada hari ketika orang tuanya memaksanya pergi ke luar negeri dan benar-benar memutuskan hubungan dengan Wendrino.
"Ugh .... Pak Calvin, aku nggak tahan lagi ditekan begitu kuat."
Di ruang latihan menari, dosen tariku yang bernama Calvin sedang mengoreksi posturku. Tangannya mencengkeram bagian dalam kakiku dan menekannya dengan kuat. Setelah itu, sensasi menggelitik di tubuhku pun mencapai puncaknya. Pada saat yang sama, gangguan adiksiku membuat area di antara kakiku basah, hingga membasahi tangannya.
~ Pemenang Runner Up (Juara 2) Kompetisi 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022 ~
Dibuang setelah kematian ibunya secara tragis, hidup Gallen bagai di neraka. Dia bertekad untuk sukses dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam.
"Lihat dan tunggu pembalasanku! Akan kutenggelamkan kalian semua hingga ke kerak bumi!"
Dua puluh tahun kemudian, Gallen muncul di perusahaan keluarga ayahnya sebagai Malaikat Kematian dalam wujud seorang cleaning service.
Selamat membaca! Yuk ramaikan kolom review dengan komentar!
Ikuti juga IG @lathifahnur117
Tarno yang telah merantau ke luar negeri selama lima tahun berencana memberikan kejutan untuk istrinya, Susanti, dengan pulang ke rumah tanpa memberi kabar sebelumnya. Dia bahkan menyiapkan sebuah hadiah berupa kalung berbandul hati dengan inisial namanya dan istrinya. Namun niatnya untuk memberikan kejutan justru malah berbalik membuatnya lebih terkejut. Tarno melihat Susanti dan Joko -sahabat yang dipercayainya untuk menjaga istrinya selama dia pergi- berada di kasurnya tanpa sehelai benang apa pun.
Bagaimanakah reaksi Tarno menghadapi perselingkuhan istri dan sahabatnya? Yuk ikuti kisah selengkapnya...
Malam sebelum aku seharusnya menikah dengan pewaris Keluarga Moro, aku mendapati rentetan 99 pesan teks mesum di ponsel Leo, tunanganku.
Seorang wanita bernama Via Cokro, memberi tahu Leo bahwa dia mencintai Leo. Sangat mencintainya. Tanpa tahu malu sama sekali.
Dia memohon pada Leo supaya membatalkan pernikahan kami, mengancam akan bunuh diri jika Leo tetap melanjutkan pernikahan ini.
Aku langsung bereaksi.
Aku menyodorkan ponsel itu ke wajah Leo untuk menuntut penjelasan.
Keheningan terasa abadi sebelum Leo akhirnya angkat bicara.
"Kakaknya itu Alan, wakilku. Dia kena tembak demi aku. Aku sudah janji padanya akan menjaga adiknya."
"Jeny, kita tumbuh bersama. Kamu tahu cuma kamu satu-satunya di hatiku. Aku janji bakal urus ini, aku akan memutus hubungan dengannya."
Aku mencari kebohongan di mata Leo.
Akhirnya aku menelan rasa getir dalam tenggorokanku dan memilih untuk memercayai Leo. Pernikahan pun tetap dilanjutkan.
Pernikahan ini bukan sekadar tentang kami berdua.
Ini adalah perjanjian yang ditandatangani dengan darah antara dua keluarga.
Dan, Tuhan tolong aku, aku masih mencintainya.
Namun, di hari pernikahan kami, saat kami berdiri di altar dengan janji yang hampir diucapkan, Leo menerima telepon.
Itu dari dia, Via.
Dia sedang berada di jembatan dan mengancam akan melompat. Menuntut supaya Leo segera datang sekarang juga.
Cincin berlian yang hanya sejengkal dari jariku, jatuh berdenting ke lantai batu gereja.
Tidak ada sepatah kata pun.
Tidak ada satu pun penjelasan.
Leo pergi begitu saja. Meninggalkanku, keluarga kami, masa depan kami... Meninggalkanku berdiri sendirian di altar.
Dalam kabut air mata, aku berteriak padanya, "Leo, kalau kamu keluar dari pintu itu, kita putus!"
Jawaban satu-satunya dari mulut Leo, diucapkannya sambil berjalan menjauh, "Dia butuh aku."
Leo tidak pernah menoleh ke belakang.
Aku pun menghilang dari dunia Leo dan tidak pernah menoleh ke belakang sambil mengandung anaknya.
Pernah melihat pertunjukan Tari Lenso langsung di acara adat Maluku? Aku terpesona dengan properti yang digunakan, terutama selendang berwarna cerah (lenso itu sendiri) yang jadi pusat gerakan. Penari biasanya memegang ujung selendang sambil diayunkan dengan lembut, menciptakan visual yang mengalir. Kostumnya juga tak kalah penting: baju adat dengan motif khas, sering dipadukan dengan sarung dan hiasan kepala.
Yang menarik, properti sederhana seperti sapu tangan kecil kadang dimainkan sebagai simbol keramahan. Gerakan menawarkan lenso kepada penonton atau sesama penari menjadi momen interaktif yang hangat. Nuansa festifal semakin kuat dengan iringan musik tifa dan gong yang ritmis, membuat semua elemen menyatu dalam harmoni.
Kebetulan beberapa waktu lalu aku lagi suka nonton video tradisional Indonesia, dan nemu satu dokumenter kecil tentang Tari Lenso. Tarian ini ternyata punya akar budaya dari Maluku, terutama daerah Ambon dan sekitarnya. Gerakannya yang ceria pake lenso (sapu tangan) itu bener-bener ngambil atmosfer suka cita masyarakat Maluku.
Yang bikin menarik, tari ini sering muncul di acara-acara pernikahan atau penyambutan tamu. Aku suka banget sama energinya yang contagious, kayak semua orang diajak buat ikutan happy. Pernah liat langsung waktu kulineran di festival budaya, dan aura kebersamaannya itu loh... bikin pengen ikutan nari!
Tari Lenso adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Maluku dan Minahasa, Sulawesi Utara, yang biasanya dibawakan dalam acara-acara perayaan seperti pesta panen atau pernikahan. Gerakannya yang lincah menggunakan sapu tangan (lenso) sebagai properti utama mencerminkan kegembiraan dan semangat masyarakat setempat.
Sejarahnya berkaitan dengan budaya Portugis yang dibawa selama masa kolonial, di mana tarian ini awalnya digunakan sebagai sarana pergaulan muda-mudi. Uniknya, lenso (sapu tangan) sering dilempar ke penonton sebagai simbol undangan untuk menari bersama, menciptakan interaksi yang cair antara penari dan penonton.
Gerakan dasar Tari Lenso itu sebenarnya cukup sederhana, tapi punya makna yang dalam. Aku ingat pertama kali melihatnya di acara adat Maluku, langsung terpesona oleh gemulai penarinya. Gerakan utamanya melibatkan goyangan pinggul yang lembut sambil meliukkan tangan seperti sedang memegang lenso (sapu tangan). Kaki biasanya melangkah kecil-kecil dengan ritme yang mengikuti alunan musik bambu.
Yang bikin unik, setiap gerakan dalam tarian ini seolah bercerita tentang kegembiraan dan semangat muda. Penari seringkali saling bertukar lenso sebagai simbol persahabatan. Aku selalu suka bagaimana tarian ini bisa menyatukan orang-orang dalam kebahagiaan, apalagi saat ditarikan berkelompok dengan pola melingkar.
Membicarakan Tari Lenso selalu mengingatkanku pada festival budaya di Maluku yang pernah kukunjungi tahun lalu. Tarian ini ternyata punya beberapa varian tergantung daerah asalnya! Yang paling terkenal ada tiga jenis: Lenso dari Minahasa (Sulawesi Utara) dengan gerakan lincah dan properti sapu tangan, Lenso Ambon yang lebih slow dengan nuansa melankolis, serta Lenso Flores yang kental unsur Portugis.
Yang menarik, setiap jenis punya makna berbeda. Lenso Minahasa sering dipentaskan dalam acara pernikahan sebagai simbol sukacita, sementara di Ambon, tarian ini lebih sering jadi bagian upacara adat. Aku pribadi paling suka melihat Lenso Flores karena kostum penarinya yang colorful dan iringan musiknya bikin mood langsung cerah!