Kalau mau belajar Tari Lenso, mulailah dengan berdiri rileks dan pegang lenso di tangan kanan. Gerakan dasarnya dimulai dengan melangkah ke samping kanan dan kiri secara bergantian, sambil mengayunkan lenso dengan gerakan berputar. Pinggul mengikuti alunan lagu dengan goyangan yang tidak terlalu besar tapi tetap terasa energik.
Kunci utamanya adalah ekspresi wajah yang ceria, karena tarian ini memang menggambarkan sukacita. Pernah lihat penari profesional melakukannya? Mereka seperti memainkan lenso dengan sangat luwes, seakan kain itu hidup dan menari bersama mereka. Butuh latihan untuk mencapai kelenturan itu, tapi gerakan dasarnya bisa dipelajari siapa saja.
Gerakan dasar Tari Lenso itu sebenarnya cukup sederhana, tapi punya makna yang dalam. Aku ingat pertama kali melihatnya di acara adat Maluku, langsung terpesona oleh gemulai penarinya. Gerakan utamanya melibatkan goyangan pinggul yang lembut sambil meliukkan tangan seperti sedang memegang lenso (sapu tangan). Kaki biasanya melangkah kecil-kecil dengan ritme yang mengikuti alunan musik bambu.
Yang bikin unik, setiap gerakan dalam tarian ini seolah bercerita tentang kegembiraan dan semangat muda. Penari seringkali saling bertukar lenso sebagai simbol persahabatan. Aku selalu suka bagaimana tarian ini bisa menyatukan orang-orang dalam kebahagiaan, apalagi saat ditarikan berkelompok dengan pola melingkar.
Ada sesuatu yang menawan dari kesederhanaan Tari Lenso. Gerakannya bermula dari tradisi minum tuak dalam perayaan, dimana lenso digunakan untuk membersihkan bibir gelas. Sekarang gerakan dasarnya lebih terstruktur: langkah tiga ketukan, goyangan pinggul, dan ayunan lenso yang mengikuti tempo musik. Penari sering saling berhadapan sambil memainkan sapu tangan mereka, menciptakan interaksi yang ceria.
Yang membuatku selalu tersenyum adalah momen ketika penari saling melempar lenso satu sama lain - butuh timing yang sempurna! Gerakan ini melambangkan kehangatan hubungan antar warga. Walaupun berasal dari Maluku, tarian ini sudah menyebar dan memiliki variasi gerakan di berbagai daerah.
Tari Lenso mengingatkanku pada festival budaya di Ambon tahun lalu. Gerakannya yang dinamis tapi tetap elegan benar-benar memikat. Dasar tarinya terdiri dari tiga elemen utama: langkah kaki yang ringan, ayunan lenso yang berirama, dan gerak tubuh yang proporsional. Penari biasanya membentuk formasi berpasangan atau melingkar, menciptakan pola visual yang indah.
Salah satu gerakan favoritku adalah saat penari memutar lenso di atas kepala sambil berputar pelan. Butuh koordinasi yang baik antara tangan, mata, dan tubuh. Menariknya, walaupun gerakannya terlihat mudah, butuh banyak latihan untuk membuatnya terasa 'hidup' dan tidak kaku seperti yang sering kulihat di pemula.
2026-06-13 08:27:04
19
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kau Bisa Apa Tanpaku, Mas?
Itha Sulfiana
8.5
66.2K
Najwa Asyifa, perempuan berusia 26 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dengan Fabian Rizki yang lebih tua enam tahun dibanding dirinya. Pernikahan itu awalnya indah. Namun, semenjak kehadiran Ibu mertua dan adik ipar yang ikut tinggal bersama mereka, keadaan akhirnya berubah.
Puncaknya, ketika Najwa mendapat sebuah kabar buruk. Sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan mengakui wanita itu sebagai istri kedua.
*
Kau bilang, aku tak bisa tanpamu, Mas. Ah, Benarkah?
Ku rasa, itu terbalik. Bukankah, justru kau yang tak bisa tanpaku?
~ Pemenang Runner Up (Juara 2) Kompetisi 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022 ~
Dibuang setelah kematian ibunya secara tragis, hidup Gallen bagai di neraka. Dia bertekad untuk sukses dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam.
"Lihat dan tunggu pembalasanku! Akan kutenggelamkan kalian semua hingga ke kerak bumi!"
Dua puluh tahun kemudian, Gallen muncul di perusahaan keluarga ayahnya sebagai Malaikat Kematian dalam wujud seorang cleaning service.
Selamat membaca! Yuk ramaikan kolom review dengan komentar!
Ikuti juga IG @lathifahnur117
Pernikahan sirri yang dijalankan oleh Andika dan Camelia mengalami banyak cobaan dan rintangan. Terutama ketika Andika diminta menikahi Camelia secara negara tetapi ia juga harus menikah dengan gadis pilihan ibunya. Camelia tidak mau dimadu. Dika tak bisa kehilangan keduanya. Keputusan harus diambil Dika untuk menyelematkan rumah tangganya dan agar ia tak kehilangan semua yang telah diraih.
Tarno yang telah merantau ke luar negeri selama lima tahun berencana memberikan kejutan untuk istrinya, Susanti, dengan pulang ke rumah tanpa memberi kabar sebelumnya. Dia bahkan menyiapkan sebuah hadiah berupa kalung berbandul hati dengan inisial namanya dan istrinya. Namun niatnya untuk memberikan kejutan justru malah berbalik membuatnya lebih terkejut. Tarno melihat Susanti dan Joko -sahabat yang dipercayainya untuk menjaga istrinya selama dia pergi- berada di kasurnya tanpa sehelai benang apa pun.
Bagaimanakah reaksi Tarno menghadapi perselingkuhan istri dan sahabatnya? Yuk ikuti kisah selengkapnya...
Dewa Pedang Telah Kembali!
Li Shan tidak sengaja terperangkap dalam pertempuran besar pendekar di Gunung Tianzhu untuk memperebutkan Batu Langit, salah satu mustika terkuat di dunia pendekar. Mustika Batu Langit memiliki kekuatan luar biasa, tapi hanya bisa digunakan oleh pendekar terpilih. Li Shan yang waktu itu merupakan murid Sekte Angin Timur, tidak mengetahui kekuatan Batu Langit saat batu tersebut tiba-tiba berada di tangannya.
Kini, semua pendekar berbondong-bondong menyerang Sekte Angin Timur. Li Shan harus melatih diri, mempersiapkan pertempuran tiada akhir mengingat dia adalah satu-satunya orang yang bisa mendamaikan perselisihan perguruan yang terjadi selama 100 tahun terakhir.
Berawal dari dunia maya, Delisa Maharani berkenalan dengan Erlangga Alfatih. Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka menimbulkan rasa suka di hati masing-masing.
Rasa di hati membesar setelah mereka memutuskan untuk bertemu. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka saling cocok dan menjadi sepasang kekasih.
Keseriusan Erlan membuatnya berani menemui dan meminta restu pada orang tua Delisa. Mereka pun menyambut niat baik Erlan dengan tangan terbuka.
Namun, hubungan keduanya harus kandas, saat di satu kesempatan, tiba-tiba Delisa mendapati dirinya berada satu kamar dengan Erlan.
Parahnya orang tua Delisa mengetahui kejadian itu dari foto yang dikirimkan oleh orang tak dikenal.
Erlan berusaha menjelaskan kalau semua itu di luar kesadarannya, ia bahkan tak pernah menyentuh Delisa.
Sebagai wujud tanggung jawabnya Erlan bersedia menikahi Delisa meski ia tak pernah melakukan apa pun pada kekasihnya.
Rasa kecewa Delisa dan keluarganya semakin menggunung saat hasil visum mengatakan Delisa sudah tidak perawan lagi.
Dengan berat hati Delisa akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Erlan. Karena besarnya kekecewaannya pada sang kekasih.
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Lalu siapakah sebenarnya yang telah menjebak Erlan?
Kebetulan beberapa waktu lalu aku lagi suka nonton video tradisional Indonesia, dan nemu satu dokumenter kecil tentang Tari Lenso. Tarian ini ternyata punya akar budaya dari Maluku, terutama daerah Ambon dan sekitarnya. Gerakannya yang ceria pake lenso (sapu tangan) itu bener-bener ngambil atmosfer suka cita masyarakat Maluku.
Yang bikin menarik, tari ini sering muncul di acara-acara pernikahan atau penyambutan tamu. Aku suka banget sama energinya yang contagious, kayak semua orang diajak buat ikutan happy. Pernah liat langsung waktu kulineran di festival budaya, dan aura kebersamaannya itu loh... bikin pengen ikutan nari!
Tari Lenso adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Maluku dan Minahasa, Sulawesi Utara, yang biasanya dibawakan dalam acara-acara perayaan seperti pesta panen atau pernikahan. Gerakannya yang lincah menggunakan sapu tangan (lenso) sebagai properti utama mencerminkan kegembiraan dan semangat masyarakat setempat.
Sejarahnya berkaitan dengan budaya Portugis yang dibawa selama masa kolonial, di mana tarian ini awalnya digunakan sebagai sarana pergaulan muda-mudi. Uniknya, lenso (sapu tangan) sering dilempar ke penonton sebagai simbol undangan untuk menari bersama, menciptakan interaksi yang cair antara penari dan penonton.
Ada semacam energi yang menggebu-gebu setiap kali melihat Tari Lenso dipentaskan. Biasanya, tarian ini jadi bintang utama di acara-acara adat Maluku, terutama pernikahan. Gerakan gemulai dengan sapu tangan yang melambai-lambai itu seolah jadi simbol sukacita. Pernah lihat langsung di pesta adat Ambon, suasannya langsung hidup! Gak cuma itu, acara penyambutan tamu penting atau festival budaya juga sering ngangkat Lenso sebagai representasi kekayaan lokal.
Yang bikin menarik, tari ini juga sering muncul di acara-acara sekolah atau pentas seni daerah. Kayak tahun lalu waktu festival kuliner di Surabaya, mereka bawa Tari Lenso sebagai pembuka. Itu buktiin kalo Lenso bukan sekadar tarian, tapi semacam magnet kebahagiaan yang bisa dipentaskan di berbagai kesempatan.
Pernah melihat pertunjukan Tari Lenso langsung di acara adat Maluku? Aku terpesona dengan properti yang digunakan, terutama selendang berwarna cerah (lenso itu sendiri) yang jadi pusat gerakan. Penari biasanya memegang ujung selendang sambil diayunkan dengan lembut, menciptakan visual yang mengalir. Kostumnya juga tak kalah penting: baju adat dengan motif khas, sering dipadukan dengan sarung dan hiasan kepala.
Yang menarik, properti sederhana seperti sapu tangan kecil kadang dimainkan sebagai simbol keramahan. Gerakan menawarkan lenso kepada penonton atau sesama penari menjadi momen interaktif yang hangat. Nuansa festifal semakin kuat dengan iringan musik tifa dan gong yang ritmis, membuat semua elemen menyatu dalam harmoni.
Membicarakan Tari Lenso selalu mengingatkanku pada festival budaya di Maluku yang pernah kukunjungi tahun lalu. Tarian ini ternyata punya beberapa varian tergantung daerah asalnya! Yang paling terkenal ada tiga jenis: Lenso dari Minahasa (Sulawesi Utara) dengan gerakan lincah dan properti sapu tangan, Lenso Ambon yang lebih slow dengan nuansa melankolis, serta Lenso Flores yang kental unsur Portugis.
Yang menarik, setiap jenis punya makna berbeda. Lenso Minahasa sering dipentaskan dalam acara pernikahan sebagai simbol sukacita, sementara di Ambon, tarian ini lebih sering jadi bagian upacara adat. Aku pribadi paling suka melihat Lenso Flores karena kostum penarinya yang colorful dan iringan musiknya bikin mood langsung cerah!