DIPTA
“Turun berapa?”
“Dari 92 ke 86.”, jawab Aira.
“Masih bagus.”, ucap Dipta.
Aira cemberut sedikit. “Buat aku itu turun.”
Dipta menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Perfeksionis, terbiasa percaya kalau dia selalu bisa memperbaiki sesuatu, terbiasa datang padanya setiap ada yang goyah. Tangannya bergerak pelan mengambil ponsel di meja. Layar menyala sebentar, grup chat masih ada notifikasi belum dibaca Angger, Bayu, Raka dan David. Ia tidak membuka, tidak untuk sekarang. Ia letakkan lagi dengan layar menghadap ke bawah. Aira tidak memperhatikan. Dia terlalu sibuk membalik halaman.
Capítulos em Alta