Pesugihan Kandang Bubrah
Pemuda itu memiliki selera tinggi, meskipun hidupnya berantakan.
Malam itu, setelah semua pekerjanya pulang, Arif duduk di ruang belakang rumahnya, di mana dia menyimpan barang-barang ritual. Arif menyalakan dupa dan mengambil boneka kecil dari kain lusuh. Boneka itu dia sulap menjadi perantara untuk menyantet Gibran. Dengan hati-hati, Arif menusukkan jarum ke boneka itu sambil mengucapkan mantra pelan.
“Gibran, kau akan melihat Wina bukan sebagai dirinya yang sekarang, tetapi sebagai seorang wanita yang sempurna. Kau akan tergila-gila padanya, sampai tidak ada yang lain dalam pikiranmu.”