Ujung Senja
Aku tertawa, mengajaknya ke bagasi.
“Kelihatan, Tan. Mobilnya miring, keberatan beban.”
Aku tergelak. Arif memang mampu menghidupkan suasana. Umpan apa pun yang dilemparkan lawan, selalu sukses dia jadikan candaan.
Fahmi turun dari mobil, membuat wajah Arif sedikit berubah. Mungkin dia tak menyangka aku datang bersama seorang teman.
“Maaf, Om, saya enggak ngeliat Om di mobil Tante Era.” Arif membungkukkan badan dengan sungkan. “Saya Arif, Om. TTM-nya Mega.” Arif mencium punggung tangan Fahmi.
Bab Populer