KAMAR KEDUA
Kamar yang tak pernah ia masuki.
Di dalam, Sheza meletakkan ransel itu di nakas. Ia sempat terpaku menatap isi kamar Satria. Tirai vitrase putih, cahaya lampu yang lembut, dan ranjang dengan tiang elegan, semuanya terasa tidak selaras dengan sosok pria bermotor yang berdiri di belakangnya.
“Mas Satria bisa bersih-bersih dan langsung istirahat,” katanya, mencoba menjaga suara tetap tenang. Ia berdiri dekat pintu, seolah memberi ruang.