Suami Adikku Memuja Rahimku
Aku tidak marah, justru aku sangat bersyukur karena aku bebas keluar masuk kediaman Djayadi tanpa takut menimbulkan kecurigaan.
Kamar belakang itu sunyi, hanya diisi aroma kayu tua dan cairan pembersih lantai. Jendela kecilnya menghadap taman, tempat para ART biasa menjemur pakaian. Tidak ada kemewahan di sini, hanya ranjang single dengan sprei polos, lemari besi yang engselnya berdecit, dan meja kecil dengan cermin buram. Namun justru di sinilah aku merasa paling aman.