Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya
Penerbangan ke-520 mendarat. Pacarku yang tak pernah sekali pun menjemputku, kini menungguku di bandara.
Dia membawa setangkai mawar biru yang diterbangkan langsung, cincin berlian berkilau memikat di dalam kotak beludru. Saat dia berlutut, suara decak kaget dan tarikan napas tak percaya dari orang-orang di sekitar langsung memenuhi telingaku.
Setelah sepuluh tahun bersama, ini pertama kalinya dia mengungkapkan keinginannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersamaku.
Aku berusaha tampak tenang. Setelah cincin itu terpasang di jariku, suaraku terdengar agak bergetar.
"Devan, kita ...."
Akan tetapi, dia justru tertawa. Dia menoleh ke samping dengan alis terangkat sebelah.
"Kan udah kubilang, dia pasti mau. Aku menang taruhan, mana lukisannya."
Aku terpaku. Tawa jahil dan penuh ejekan meledak dari belakangku.
Sekelompok pemuda dan pemudi dari keluarga konglomerat berjalan mendekat. Yang memimpin mereka tak lain adalah Farah Prameswara.
Dia mantan pasangan perjodohan bisnis Devan Pratama. Dia tertawa sampai air matanya keluar.
"Pantesan dia bisa betah nempel di sampingmu terus. Kalau aku punya anjing penurut kayak dia, aku juga pasti nggak tega nendang dia pergi."