Rumah nomer Tujuh
Salah satu dari mereka, cewek berjilbab, menyambung, “Iya, Pak. Katanya sih rumahnya gede dan harganya murah banget. Cocok buat rame-rame.”
Pak Slamet mendesah pelan. Ia menyandarkan sapunya ke dinding, lalu mempersilakan mereka duduk di kursi teras.
“Kalian udah tahu sejarah rumah itu?”
Empat mahasiswa itu saling pandang.
Cowok paling kecil, yang dari tadi sibuk main HP, nyeletuk sambil ketawa kecil, “Katanya sih rumah bekas pembunuhan, Pak? Hahaha... serem amat. Tapi itu tahun berapa, sih?”
Hot Chapters