Selir Yang Terlupakan
Ia kembali bekerja dengan ketelitian yang baru, menyisir rambutku perlahan tanpa menarik sedikit pun, lalu mengoleskan minyak cendana yang wanginya perlahan memenuhi ruangan—hangat, menenangkan, dan tak menyengat.
"Pemerah pipi ini hanya untuk memberi rona alami, seolah kau baru saja berjalan di taman saat musim semi," gumamnya pelan sambil mengusapkannya dengan ujung jari yang sangat halus. Ia beralih ke bibirku, meratakannya hingga tampak basah dan alami, tanpa garis tegas yang kaku.
"Sekarang jepit gioknya," ucapnya pelan. Ia mengambil sepasang jepit berukiran bunga peony yang dililit perak halus, lalu menyematkannya di sela kepangan rambut yang longgar.