Bias Cinta
ucap Cinta cuek, “kamunya aja yang terlanjur bucin.”
“Bukan bucin,” ralat Dinda terkekeh pelan, “aku cuma nge-fans.”
“Apa bagusnya si Altaf,” cibir Cinta sembari memasuki kafe dan mencari meja kosong, “masih mendingan juga bang Raksa. Atau, mas Arif dah sekalian. Ah! Nggak jadi deh. Males aku ngomongin cowok sama kamu, ujung-ujungnya juga belok ke Altaf lagi.”