Sisa Rasa
Selin memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam aroma parfum maskulin Rendra yang selalu membuatnya merasa pulang.
Rendra melepaskan ciuman itu perlahan, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Selin. Keduanya terengah, mencoba mengatur detak jantung yang berpacu liar.
“Jangan pernah sembunyiin apa pun lagi, Sel," bisik Rendra dengan suara serak.
Matanya menatap dalam ke netra Selin yang masih basah. "Aku lebih sanggup menghadapi kenyataan pahit daripada sebuah kebohongan yang manis."