Luka di Ujung Senja
Ia menulis satu kalimat:
Aku ingin hidup yang tidak perlu terus-menerus dijelaskan.
Ia berhenti, membaca ulang, lalu menutup buku itu. Kalimat itu terasa cukup untuk hari itu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
Selamat siang, Mbak Anggi. Saya Lila, teman lama Claudia. Boleh kita bertemu?
Nama itu membuat waktu seperti melambat setengah detik. Tidak ada tusukan tajam, hanya gelombang pelan yang menyentuh dasar perutnya.