Luka Seorang Istri
Aku hanya menggeleng, dan dia langsung memeluk tubuhku begitu erat.
“Kamu membuatku takut,” katanya sambil terus memelukku.
“Mas bakal baik-baik aja kok, kita cari buktinya sama-sama ya,” ucapku seraya merapikan anak rambut Dilra yang berantakan, lalu mengecupnya dengan lembut, sementara Dilra hanya mengangguk.
“Bolehkah aku iri pada Tuhan, kamu mencintai-Nya begitu tulus, meyakini-Nya begitu kuat meski segala sesuatu masih terlihat samar.”